Sabtu, 07 November 2009

Pakaian Muslimah Sesuai Syari'at

Pakaian Muslimah Sesuai Syari'at
Oleh : Ibnu Mukhtar


Saudaraku, ketahuilah olehmu -semoga Alloh Subhaanahu wa ‎Ta’aala merohmati kita semua- menutup aurot bagi wanita ‎muslimah dengan jilbab syar’ie ( bukan dengan jilbab gaul atau asal ‎berjilbab -kepala berkerudung, lekuk tubuh bahkan pakaian ‎dalamnya masih terlihat-pen ) merupakan salah satu kewajiban ‎yang diperintah Alloh dan Rosul-Nya.‎

Alloh Subhaanahu wa Ta’aala berfirman : “Wahai Nabi, katakanlah ‎kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang ‎mu’min, ‘agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh ‎mereka.’…” ( QS. Al Ahzaab ; 33 : 59 ).‎

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ ‏وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتْ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ ‏جِلْبَابِهَا ‏

Dari Ummu ‘Athiyyah rodhiyalloh ‘anha ( semoga Alloh ‎meridhoinya), dia berkata : “Kami diperintah mengeluarkan wanita ‎haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri sholat ied agar ‎mereka menyaksikan jama’ah dan mendapatkan keberkahan doa ‎mereka. Dan mereka ( wanita-wanita yang haidh ) menjauhi ‎tempat sholat. Seorang wanita berkata, Ya Rosululloh salah seorang ‎di antara kami tidak memiliki jilbab. Beliau menjawab, hendaklah ‎saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.” ( HSR. Al-‎Bukhori ).‎

Ibnu Hazm rohimahulloh ( semoga Alloh merohmatinya ) berkata, ‎‎“Jilbab yang diperintahkan untuk dipakai oleh wanita ( yang ‎beriman, red ) menurut bahasa Arab, adalah pakaian yang menutup ‎seluruh tubuh, bukan hanya menutup sebagian.” Al-Baghowi di ‎dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Jilbab adalah pakaian yang ‎dipakai wanita merangkapi khimar ( kerudung ) dan pakaian yang ‎biasa dikenakan di rumah ( tentunya sebagaimana dijelaskan Ibnu ‎Hazm di atas. Bukan pakaian seperti bikini, dan pakaian terbuka ‎lainnya, pen )‎

Dari dalil di atas maupun keterangan lainnya yang tidak tercantum ‎di sini jelaslah kesalahan orang yang berpendapat “memakai jilbab” ‎bukanlah kewajiban agama bagi muslimah. Adanya “istri-istri ‎ustadz, kiyai, tokoh-tokoh agama bahkan istri presiden sekalipun” ‎yang belum mau berjilbab bukanlah dalil atau contoh yang harus ‎ditauladani kaum muslimah. Hendaklah kita -kaum muslimin- takut ‎kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’aala jika mengikuti ucapan dan ‎amalan yang tidak ada tuntunannya dari Alloh dan Rosul-Nya itu, ‎apapun bentuknya.‎

Saudaraku, Syaikh Muhammad Naashiruddien al-Albani ‎rohimahulloh dalam kitabnya “Hijabul Mar’atil Muslimah” telah ‎menjelaskan tentang kriteria pakaian wanita muslimah yang sesuai ‎dengan petunjuk al-Qur’an, Sunnah dan amalan salafush sholih ‎‎( yaitu generasi sahabat, taabi’ien dan taabi’ut taabi’ien, red ). ‎Secara ringkas, pakaian muslimah itu harus memenuhi syarat-‎syarat berikut :‎

Pertama, menutup seluruh tubuh, selain yang dikecualikan.‎

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka ‎menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka ‎menampakkan perhiasannya, kecuali biasa yang nampak dari ‎padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ‎kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali ‎kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, ‎atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau ‎saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki ‎mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau ‎wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau ‎pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau ‎anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan ‎janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan ‎yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian ‎kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu ‎beruntung.” ( QS. An Nuur ; 24 : 31 )‎

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak ‎perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, ‘agar mereka ‎mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’…” ( QS. Al ‎Ahzaab ; 33 : 59 ).‎

Para ‘ulama berselisih apakah wanita muslimah harus menutup ‎wajahnya dengan cadar atau dibiarkan terbuka? Dalam hal ini ‎Syaikh al-Albani rohimahulloh mengatakan :

ليعلم أن ستر الوجه و الكفين له أصل في السنة و قد كان معهودا في زمنه صلى الله عليه و سلم


“Perlu diketahui, bahwa menutup wajah dan kedua tapak tangan itu ‎ada dasarnya dari Sunnah dan hal itu telah dipraktekkan di zaman ‎Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam …” ( Hijabul Mar’atil Muslimah hal. ‎‎47 ) ‎

Dari Asma’ Binti Abu Bakar rodhiyallohu ‘anha, dia berkata : ‎

كُنَّا نُغَطِّى وُجُوْهُنَا مِنَ الرِّجَالِ, وَ كُنَّا نَمْتَشِطُ قَبْلَ ذَلِكَ فِيْ الْإِحْرَامِ

‎“Kami biasa menutup wajah kami dari pandangan laki-laki dan ‎sebelum itu kami juga biasa menyisir rambut ketika Ihrom.” HR. ‎Hakim, dia berkata: “Hadits ini Shohih…”‎

Beliau rohimahulloh juga mengatakan dalam kitab yang sama :‎
‎ ‎
أن ستر المرأة لوجهها ببرقع أو نحوه مما هو معروف اليوم عند النساء المحصنات أمر مشروع محمود و إن كان لا ‏يجب ذلك عليها, بل من فعل فقد أحسن, و من لا فلا حرج

‎“…Bahwa masalah menutup wajah bagi seorang wanita dengan ‎cadar atau yang sejenis itu seperti yang sekarang ini dikenakan ‎oleh para muslimah yang menjaga dirinya adalah perkara yang ‎disyariatkan dan termasuk amalan terpuji, meskipun itu bukan hal ‎yang diwajibkan. Namun, yang mengenakannya berarti telah ‎melakukan suatu kebaikan dan yang tidak memakai cadar pun tidak ‎berdosa.” ( hal. 53 )‎

Kedua, bukan untuk berhias.‎

‎“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ‎berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang ‎dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Alloh ‎dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak ‎menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan ‎kamu sebersih-bersihnya.” ( QS. Al Ahzaab ; 33 : 34 )‎

Saudaraku, tabarruj adalah perbuatan wanita menampakkan ‎perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang seharusnya ‎ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat ‎laki-laki. Oleh karena itu, muslimah yang memakai jilbab agar lebih ‎cantik, trendy dan modis termasuk sedang melakukan tabarruj dan ‎itu harom hukumnya. Wallohu a’lam.‎

Ketiga, kainnya harus tebal, tidak tipis.‎

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ ‏كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا ‏يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anju, ia berkata : Telah bersabda ‎Rosululloh Shollalloh ‘alaihi wa sallam : Dua golongan dari ‎penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: “Satu kaum ‎yang memegang pecut seperti buntut-buntut sapi, mereka ‎memukuli manusia dengannya. Dan perempuan-perempuan yang ‎berpakaian tapi telanjang, yang berlenggak lenggok, kepala-kepala ‎mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan ‎mereka tidak dapat mencium bau surga padahal bau surga itu ‎dapat tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.” ( HSR. Muslim ‎‎).‎

Saudaraku, wanita yang berpakaian tidak sesuai tuntunan Alloh dan ‎Rosul-Nya maka pada hakikatnya masih disebut telanjang dan ‎ancamannya masuk neraka. Lalu bagaimana jadinya, jika wanita itu ‎sengaja mengumbar aurotnya? Dan lebih celaka lagi, jika ia sudah ‎tidak mau memakainya malah membenci dan mencela syariat jilbab ‎dan menggelari wanita-wanita yang berjilbab syar’ie sebagai ‎kelompok teroris, wanita terbelakang, tidak punya masa depan dan ‎gelar-gelar buruk lainnya.‎

Keempat, longgar, tidak ketat.‎

قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ : كَسَانِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قِبْطِيَّةً كَثِيْفَةً مِمَّا أَهْدَاهَا لَهُ دِهْيَةُ الْكَلْبِيُّ فَكَسَوْتُهَا ‏امْرَأَتِيْ, فَقَالَ : مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقِبْطِيَّةَ؟ قُلْتُ : كَسَوْتُهَا امْرَأَتِيْ, فَقَالَ : مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلاَلَةً, فَإِنِّيْ ‏أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا

Usamah bin Zaid rodhiyallohu ‘anhuma berkata : Rosululloh ‎Shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan kepadaku baju ‎qithbiyah yang tebal hadiah dari Dihyah al-Kalbi. Baju itu saya ‎pakaikan kepada istri saya. Nabi bertanya, ‘Mengapa kamu tidak ‎pernah memakai baju qithbiyyah? Aku menjawab, ‘Baju itu telah ‎aku pakaikan kepada istriku.’ Beliau lalu berkata, ‘Perintahkan ‎istrimu agar memakai baju dalam ketika memakai baju qithbiyyah, ‎karena aku khowatir baju qithbiyyah itu masih menggambarkan ‎bentuk tulangnya.’” ( HR. Ahmad, Baihaqi dan adh-Dhiyaa al-‎Maqdisi dalam al-Ahaaditsul Mukhtaroh dengan sanad hasan. )‎

Kelima, tidak diberi wangi-wangian.‎

عَنْ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا ‏فَهِيَ زَانِيَةٌ

Dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu , dia berkata : ‎Rosululloh bersabda Shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Perempuan ‎mana saja yang memakai wewangian lalu dia melewati laki-laki ‎agar mereka mencium baunya maka dia adalah wanita pezina.” ( ‎HSR. Nasaa-ie, Abu Dawud, Tirmidzi, Al Hakim. )‎

Keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki.‎

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ‏وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ ‏
Dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘anhumaa, dia berkata : “Rosululloh ‎shollallohu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai ‎perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki” ( ‎HSR. Bukhori )‎

Ketujuh, tidak menyerupai pakaian wanita kafir.‎

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا ‏شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ‏

Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma dia berkata : ‎Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku diutus ‎menjelang datangnya hari kiamat dengan pedang hingga Alloh ‎diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizqi-ku di ‎bawah naungan tombakku, dan dijadikkan kerendahan dan ‎kehinaan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa ‎yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan ‎mereka.” ( HHR. Ahmad )‎

Kata Imam ash-Shon’ani rohimahulloh dalam Subulus Salam : ‎‎“Hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyerupai orang-‎orang fasiq, kafir, atau ahlul bid’ah dalam hal-hal yang menjadi ciri ‎khas mereka, maka dia termasuk golongan mereka.” Wallohu ‎a’lam.‎

Kedelapan, bukan pakaian untuk kemasyhuran.‎

Pakaian kemasyhuran ( libas Syuhroh ) adalah setiap pakaian yang ‎dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah ‎manusia, baik harganya mahal yang dipakai oleh seseorang untuk ‎berbangga dengan harta dan perhiasannya maupun pakaian yang ‎murah yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan ‎kezuhudannya dan dengan tujuan riya’.‎

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ‏أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا‏

Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata : ‎Rosululloh Shollallou ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa ‎memakai pakaian untuk mencari popularitas di dunia maka Alloh ‎akan mengenakan pakaian kehinaan di hari kiamat kemudian ‎membakarnya dengan neraka.” ( HHR. Abu Dawud, Ibnu Majah, ‎Ahmad ).‎

Saudaraku, demikianlah kriteria pakaian bagi muslimah menurut ‎tuntunan Alloh dan Rosul-Nya. Semoga risalah singkat ini menjadi ‎amal yang ikhlas bagi penyusunnya dan bermanfaat bagi kita ‎semua. ‎

1 komentar:

  1. Alhamdulillah sangat bermanfaat..semoga kita dimudahkan untuk berpakaian sesuai tuntunan Alloh dan RosulNya. aamin

    BalasHapus